Artikel

Resep Abon Lele Lezaat!

Bahan :
-Lele 10 kg
-Gula Merah 3 kg
-Gula Pasir 1 kg
-Lengkuas 250 gram
-Sereh 10 batang
-Daun Salam 10 lembar
-Ketumbar 50 gram
-Bawang Putih 250 gram
-Bawang Merah 250 gram
-Jahe 100 gram
-Asam Jawa 100 gram, direbus dengan 200 cc air, saring, ambil airnya.
-Garam secukupnya
-Minyak goreng 2 kg
Cara Membuat:
1.Siapkan lele segar yang sudah dimatikan.
2.Pisahkan kulit dan daging dengan bantuan pisau.
3.Potong bagian kepalanya
4.Bersihkan isi perutnya.
5.Lepaskan daging dari tulang, sisihkan
6.Kukus daging hingga matang, dinginkan.
7.Suwir-suwir dengan garpu hingga halus.
8.Siapkan bumbu-bumbu, haluskan ketumbar, bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas,
9.Tumis bumbu halus dengan minyak goreng hingga harum, tambahkan sereh dan daun salam. Tambahkan air  asam jawa+garam+gula pasir+gula merah.
10.Masukkan daging lele yang sudah dihaluskan.
11.Masak dan aduk hingga bumbu meresap.
12.Panaskan minyak goreng dalam wajan, goreng daging lele sedikit demi sedikit hingga kecoklatan,       angkat  dan tiriskan.
13.Masukkan dalam alat pengepres minyak.
14.Abon lele siap disajikan dan bisa disimpan dalam toples.

Selamat mencoba!








 
Sejarah   Lele   Dumbo   Di Indonesia
              Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh  masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
     Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbodibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.  
     Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkanlele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).
     Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele “Sangkuriang”
    Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.
     Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.
     Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, makalele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama “Lele Sangkuriang”. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).